Hasil Kajian

Friday, 19 March 2010 13:22
Sungkai (Peronema canescens) sering disebut sebagai jati sabrang, ki sabrang, kurus, sungkai, sekai termasuk kedalam famili Verbenaceae. Daerah penyebarannya di IndonesiaKalimantan. Tempat tumbuh di dalam hutan tropis dengan type curah hujan A More...

Friday, 19 March 2010 13:10
lereng.png
Kawasan Gunung Muria merupakan dataran tinggi yang melingkupi 3 (tiga) kabupaten, yaitu kabupaten Jepara, Kudus, dan Pati dengan batas pengelolaan DAS di DAS Balong, DAS Juana dan DAS Serang. . More...

Friday, 19 March 2010 12:34
DAS Tuntang merupakan bagian dari satuan wilayah pengelolaan DAS (SWP DAS) Jratun Seluna, dari hasil Penetapan Urutan Prioritas DAS Wilayah BP DAS Pemali Jratun Tahun 2007 DAS Tuntang termasuk Prioritas I. Hulu DAS Tuntang berada di Kabupaten More...

Friday, 19 March 2010 11:51
dsc_0217.jpg
I. PENDAHULUAN   A. Latar Belakang Banjir yang terjadi di Kota Semarang pada awal bulan Pebruari 2009, telah melumpuhkan roda perekonomian dan  kembali membuka mata kita untuk kembali mengenang banjir tahun 1990. Kejadian banjir telah More...

Friday, 19 March 2010 11:27
dsc_0130.jpg
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang DAS Bodri merupakan bagian dari satuan wilayah pengelolaan DAS (SWP DAS) Pemali Comal, dari hasil Penetapan Urutan Prioritas DAS Wilayah BP DAS Pemali Jratun Tahun 2007 DAS BODRI termasuk Prioritas I. Hulu More...

Content View Hits : 533810

Artikel

Friday, 16 December 2011 13:31
stuban1.png
 Perjalanan  Studi Banding Forum DAS Lingkup BPDAS Pemali Jratun Ke Forum Komunikasi DAS Cidanau (FKDC) di More...

Monday, 28 December 2009 20:48
Daerah Aliran Sungai/DAS Garang terletak pada posisi antara 110° 15' 43' - 110° 30' 37' Bujur Timur dan 6° 54' 49'' - 7° 11' 51'' Lintang Selatan. Wilayah DAS Garang seluas 52.965,199 ha terdiri dari 11 Sub DAS. Wilayah administrasi yang More...

Saturday, 26 December 2009 07:24
lereng.png
Kawasan Gunung Muria merupakan dataran tinggi yang melingkupi 3 (tiga) kabupaten, yaitu kabupaten Jepara, Kudus, dan Pati dengan batas pengelolaa DAS di DAS Balong, DAS Juana dan DAS Serang.   More...

Saturday, 26 December 2009 07:21
Balai Pengelolaan DAS Pemali Jratun memiliki wilayah pantai dengan panjang ± 250 KM di sepanjang pantai utara Jawa Tengah. Secara administratif tersebar di 10 Kabupaten dan 3 kota, yaitu Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal, Kota Tegal, Kabupaten More...

Saturday, 26 December 2009 07:18
lkcacaban.png
DAS Cacaban merupakan DAS prioritas I yang berada di Kabapaten Tegal seluas 14.512,32 ha. Secara astronomis terletak pada 109° 09' 00' - 109° 15' 31' BT dan 6° 51' 47'' - 7° 04' 29'' LS. Wilayah administrasi yang masuk kedalam DAS CACABAN Ds More...

Friday, 25 December 2009 13:16
hr2.png
Kelompok tani ini dirintis oleh masyarakat dukuh Tanggar desa Damarwulan sejak tahun 1984. Berawal dari kepentingan bersama yaitu mengelola lahan kering agar dapat berfungsi sebagai media produksi bahan-bahan kebutuhan hidup sehari-hari. Sebanyak 17 More...

We have 9 guests online
Daerah Rawan Bencana PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Monday, 28 December 2009 19:04

Banjir (flood) adalah debit aliran air sungai yang secara relative lebih besar dari biasanya/normal akibat hujan yang turun di hulu atau disuatu tempat tertentu secara terus menerus, sehingga tidak dapat ditampung oleh alur sungai yang ada, maka air melimpah keluar dan menggenangi daerah sekitarnya.

Banjir merupakan suatu peristiwa alam biasa, kemudian menjadi suatu masalah apabila sudah mengganggu kehidupan dan penghidupan manusia serta mengancam keselamatan.

Dalam memformulasikan banjir, parameter-parameter yang terkait dibedakan antara karateristik potensi air banjir dan kerentanan daerah rawan banjir. Potensi banjir terkait dengan sumber (asal) penyebab air banjir itu terjadi dimana hal ini berkaitan dengan factor meterologis dan kerakteristik DAS-nya. Sehingga paameter-parameter yang digunakan untuk memformulasikan kerentanan potensi banjir dilakukan melalui estimasi berdasarkan kondisi alami manajemen daerah tangkapan airnya atau pengukuran langsung dari nilai debit spesifik maksimum tahunannya.

Tanah longsor (landslide) merupakan salah satu bentuk erosi yang pengangkutan atau pemindahan masa tanahnya terjadi pada suatu saat secara tiba-tiba dalam volume yang besar (sekaligus). Oleh Brook dkk. (1991) disebutkan bahwa tanah longsor adalah salah satu bentuk dari gerakan masa tanah, batuan dan reruntuhan batu/tanah yang terjadi seketika bergerak menuju lereng bawah yang dikendalikan oleh gaya gravitasi dan meluncur di atas suatu lapisan kedap yang jenuh air (bidang luncur). Tanah longsor terjadi jika dipenuhi 3 keadaan yaitu lereng cukup curang, terdapat bidang peluncur di bawah permukaan tanah yang kedap air dan terdapat cukup air (dari hujan) dalam tanah di ata lapisan kedap (bidang luncur) sehingga tanah jenuh air. Air hujan yang jatuh di atas permukaan tanah yang kemudian menjenuhi tanah sangat menentukan kestabilan lereng, yaitu melalui menurunnya ketahanan geser tanah yang jauh lebih besar daripada penurunan tekanan geser tanah, sehingga faktor keamanan lereng menurun tajam, menyebabkan lereng rawan longsor.

 

Analisis deskriptif kualitatif disajikan sebagai berikut

Kabupaten Brebes

Lokasi rawan bencana di Kabupaten Brebes meliputi beberapa wilayah kecamatan yaitu Kec. Ketanggungan, Kec. Jatibarang, Kec. Banjarharjo, Kec. Losari, Kec. Bantarkawung, Kec. Salem, Kec. Bulakamba, Kec. Sirampog, Kec. Tanjung, Kec. Brebes, Kec. Songgom, Kec. Paguyangan, Kec. Bumiayu, Kec. Kersana, Kec. Larangan, Kec. Wanasari dan Kec. Tonjong. Kejadian bencana di Kabupaten Brebes memiliki frekuensi yang relatif sama antara kejadian banjir dan tanah longsor pada kejadian 5 tahun terakhir. Bencana dengan korban cukup besar terjadi pada Kec. Ketanggungan, Kec. Salem dan Kec. Paguyangan yang menyebabkan korban jiwa.

Dari kondisi biofisik lokasi bencana untuk Kec. Ketanggungan bentuk lahan berupa dataran alluvial, jenis tanah alluvial, penggunaan lahan berupa sawah dan pemukiman, dengan tingkat kelerengan landai (0 – 8%) dan curah hujan 1500 – 3500 mm/th. Untuk Kec. Salem bentuk lahan berupa dataran alluvial dan lembah alluvial, jenis tanah latosol dan grumusol, penggunaan lahan hutan, tegalan, kebun campur, sawah dan pemukiman, tingkat kelerengan bervariasi dari landai (0 – 8%) sampai sangat curam (>45%), dan curah hujan 2500 – 3500 mm/th. Untuk Kec. Paguyangan bentuk lahan berupa dataran, kipas lahar dan pegunungan/perbukitan, jenis tanah dominan alluvial dengan sedikit latosol dan grumusol, penggunaan lahan hutan, sawah, pemukiman dengan sedikit tegalan, tingkat kelerengan bervariasi dari landai (0 – 8%) sampai sangat curam (>45%), dan curah hujan 2500 – 5000 mm/th.

Dari kondisi biofisik dapat dianalisis daerah kejadian banjir tersebut dapat dipengaruhi adanya banjir kiriman mengingat kelerengan yang curam, penggunaan lahan bagian atas hutan yang terganggu dengan tegalan, ditambah dengan curah hujan yang tinggi, sementara jenis tanah mengandung lempung maka akan mendorong potensi terjadinya longsor selain terjadinya banjir akibat kondisi daerah tangkapan yang kurang bagus. Akibat dari kejadian bencana pada lokasi tersebut dapat berupa berkurangnya lapisan top soil yang subur (adanya dataran alluvial) selain kerusakan lahan maupun fasilitas umum, bahkan korban jiwa yang ditimbulkannya.

Kabupaten Tegal

Lokasi rawan bencana di Kabupaten Tegal meliputi beberapa wilayah kecamatan yaitu Kec. Jatinegara, Kec. Lebaksiu, Kec. Kedungbanteng dan Kec. Balapulang. Kejadian bencana di Kabupaten Tegal memiliki frekuensi yang hampir sama antara kejadian banjir dan tanah longsor pada kejadian 5 tahun terakhir. Bencana dengan korban cukup besar terjadi pada Kec. Jatinegara yang menyebabkan rumah tertimbun longsor.

Dari kondisi biofisik lokasi bencana untuk Kec. Jatinegara bentuk lahan berupa dataran dan pegunungan/perbukitan, jenis tanah latosol dan grumusol, penggunaan lahan berupa hutan, pemukiman, tegalan dan sawah, dengan tingkat kelerengan bervariasi dari landai (0 – 8%) sampai agak curam (16 – 25%) dan curah hujan 2000 – 4000 mm/th. Dari kondisi biofisik dapat dianalisis daerah kejadian bencana tanah longsor di Kabupaten Tegal yaitu kelerengan yang curam, walaupun penggunaan lahan bagian atas adalah hutan, tapi dengan jenis tanah yang mengandung lempung dapat berfungsi sebagai bidang gelincir yang akan mengakibatkan longsor.

Kabupaten Pemalang

Lokasi rawan bencana di Kabupaten Pemalang meliputi beberapa wilayah kecamatan yaitu Kec. Watukumpul, Kec. Pemalang, Kec. Bodeh, Kec. Petarukan, Kec. Ampelgading, Kec. Ulujami, Kec. Randudongkal, Kec. Belik, Kec. Comal, Kec. Bantarbolang dan Kec. Taman. Kejadian bencana di Kabupaten Pemalang dominan tanah longsor, dengan beberapa kejadian banjir. Bencana dengan korban cukup besar terjadi di Kec. Watukumpul berupa kejadian bencana tanah longsor, yaitu rumah penduduk rusak dan terancam longsor.

Dari kondisi biofisik lokasi bencana untuk Kec. Watukumpul bentuk lahan berupa pegunungan/perbukitan, penggunaan lahan dominan hutan dan tegalan, jenis tanah latosol dan grumusol, tingkat kelerengan bervariasi dari landai sampai sangat curam, dengan dominasi lereng curam (26 – 45%) dan sangat curam ( >45%), dengan curah hujan 5000 – 5500 mm/th. Dari kondisi biofisik dapat dianalisis daerah kejadian bencana tanah longsor tersebut dipengaruhi kelerengan yang curam, penggunaan lahan bagian atas hutan yang terganggu dengan tegalan, curah hujan tinggi dan jenis tanah dengan kandungan lempung sehingga memiliki bidang gelincir yang berfungsi sebagai bidang longsor. Pada peta daerah rawan tanah longsor dapat dilihat persebaran lokasi yang berada di bagian atas yang merupakan lereng Gunung Slamet.

Kabupaten Pekalongan

Lokasi rawan bencana di Kabupaten Pekalongan meliputi beberapa wilayah kecamatan yaitu Kec. Lebakbarang, Kec. Bojong, Kec. Kedungwuni, Kec. Karanganyar, Kec. Wiradesa, Kec. Kandangserang, Kec. Tirto, Kec. Sragi, Kec. Buaran, Kec. Wonopringgo, Kec. Wonokerto, Kec. Paninggaran, Kec. Siwalan, Kec. Kesesi, Kec. Kajen, Kec. Talun dan Kec. Karangdadap. Kejadian bencana di Kabupaten Pekalongan mayoritas banjir dengan beberapa kejadian tanah longsor pada awal tahun 2003 dan tahun 2006. Pada tahun 2005 kejadian bencana di Kabupaten Pekalongan merupakan tanah longsor. Bencana dengan korban cukup besar terjadi pada Kec. Tirto dan Kec. Bojong, yaitu tergenangnya rumah penduduk, pekarangan, sawah dan sarana umum lainnya dalam area yang cukup luas.

Dari kondisi biofisik lokasi bencana untuk Kec. Tirto bentuk lahan berupa dataran alluvial, jenis tanah alluvial, penggunaan lahan dominan hutan, sawah dengan beberapa tegalan, tingkat kelerengan landai (0 – 8%) dan curah hujan 2000 – 2500 mm/th. Untuk Kec. Bojong bentuk lahan berupa dataran alluvial, sedikit kipas lahar dan pegunungan/perbukitan, penggunaan lahan berupa sawah, tegalan, kebun campur dan pemukiman dengan tingkat kelerengan dominan landai (0 – 8%) dengan beberapa daerah sampai pada tingkat kelerengan curam (26 – 45%), jenis tanah alluvial dan latosol dengan curah hujan 2000 – 2500 mm/th.

Dari kondisi biofisik dapat dianalisis daerah kejadian bencana banjir yaitu kelerengan yang landai, penggunaan lahan walaupun berupa hutan, tapi bisa saja kurang berfungsi menampung volume air yang disebabkan adanya banjir kiriman dari bagian atas dan juga dari pantai saat curah hujan di daerah atas meningkat, sementara terjadi kenaikan pada muara sungai. Jenis tanah alluvial dengan kelerengan landai dapat merupakan dataran banjir/flood plain. Pada peta daerah rawan banjir dapat dilihat persebaran lokasi yang dilewati sungai, baik sungai utama maupun anak sungai.

Kabupaten Batang

Lokasi rawan bencana di Kabupaten Batang meliputi beberapa wilayah kecamatan yaitu Kec. Batang, Kec. Tulis, Kec. Subah, Kec. Gringsing, Kec. Bandar, Kec. Wonotunggal, Kec. Warungasem, Kec. Limpung dan Kec. Blado. Kejadian bencana di Kabupaten Batang memiliki frekuensi yang relatif sama antara kejadian banjir dan tanah longsor pada kejadian 5 tahun terakhir. Bencana dengan korban cukup besar terjadi pada Kec. Batang, Kec. Tulis dan Kec. Subah yang mana sampai menimbulkan adanya korban jiwa.

Dari kondisi biofisik lokasi bencana untuk Kec. Batang bentuk lahan berupa dataran dan dataran alluvial, jenis tanah alluvial, latosol dan regosol,  penggunaan lahan dominan sawah dan pemukiman, dengan tingkat kelerengan landai (0 – 8%) sampai agak curam (16 – 25%) dan curah hujan 2000 – 3500 mm/th. Untuk Kec.  Tulis bentuk lahan berupa dataran dan dataran alluvial, jenis tanah alluvial, latosol dan regosol, penggunaan lahan dominan sawah dan pemukiman, dengan tingkat kelerengan landai (0 – 8%) sampai agak curam (16 – 25%) dan curah hujan 2000 – 2500 mm/th.   Untuk Kec. Subah bentuk lahan berupa dataran dan pegunungan/perbukitan, jenis tanah latosol dan regosol, penggunaan lahan hutan, kebun cambur, sawah dan pemukiman, dengan tingkat kelerengan bervariasi dari landai (0 – 8%) sampai sangat curam (>45%) dan curah hujan 2000 – 3000 mm/th.

Dari kondisi biofisik dapat dianalisis daerah kejadian banjir tersebut dipengaruhi banjir kiriman karena adanya kelerengan yang curam, penggunaan lahan bagian atas berupa hutan yang terganggu dengan tegalan, sehingga dengan curah hujan yang tidak terlalu tinggi tetap menimbulkan banjir yang cukup luas.

Kabupaten Kendal

Lokasi rawan bencana di Kabupaten Kendal meliputi beberapa wilayah kecamatan yaitu Kec. Cepiring, Kec. Gemuh, Kec. Ngampel Kulon, Kec. Pegandon, Kec. Plantungan, Kec. Kaliwungu, Kec. Rowosari, Kec. Kendal, Kec. Kangkung, Kec. Patean, Kec. Sukorejo, Kec. Pageruyung dan Kec. Limbangan. Kejadian bencana di Kabupaten Kendal memiliki frekuensi yang juga relatif sama antara kejadian banjir dan tanah longsor pada kejadian 5 tahun terakhir. Bencana dengan korban cukup besar terjadi pada Kec. Pegandon dan Kec. Gemuh yang menyebabkan rumah terendam dan ada yang roboh akibat terjangan banjir.

Dari kondisi biofisik lokasi bencana untuk Kec. Pegandon bentuk lahan berupa dataran alluvial, jenis tanah alluvial, penggunaan lahan berupa sawah dan pemukiman, dengan tingkat kelerengan landai (0 – 8%) dan curah hujan 2000 – 3000 mm/th. Untuk Kec. Gemuh bentuk lahan berupa dataran alluvial dengan sedikit dataran dan pegunungan/perbukitan, jenis tanah alluvial dengan sedikit grumusol dan mediteran, penggunaan lahan dominan sawah dan pemukiman, tingkat kelerengan landai (0 – 8%), dengan sedikit lokasi sampai curam (26 – 45%) dan curah hujan 2000 – 3000 mm/th. Dari kondisi biofisik dapat dianalisis daerah kejadian bencana banjir yaitu kelerengan yang landai, penggunaan lahan bukan vegetasi permanen sehingga mengurangi ruang terbuka untuk penyerapan air. Bentuk lahan dataran alluvial dan jenis tanah alluvial dengan kelerengan landai mengindikasikan adanya dataran banjir/flood plain. Dari lokasi bencana dapat juga disebabkan adanya pasokan air dari lereng atas yang merupakan lereng dari Dataran Tinggi Dieng.

Kabupaten Semarang

Lokasi rawan bencana di Kabupaten Semarang meliputi beberapa wilayah kecamatan, yaitu Kec. Pringapus, Kec. Ungaran, Kec. Bawen, Kec. Banyubiru, Kec. Getasan, Kec. Bringin dan Kec. Bergas. Kejadian bencana di Kabupaten Semarang dominan tanah longsor, dengan dua kali kejadian banjir dalam kurun waktu 5 tahun terakhir yaitu pada tahun 2002 di Ds. Rembes, Kec. Bringin, dan tahun 2006 di Ds. Susukan, Kec. Ungaran. Bencana dengan korban cukup besar terjadi di Kec. Banyubiru berupa kejadian bencana tanah longsor yang mengakibatkan rumah roboh.

Dari kondisi biofisik lokasi bencana untuk Kec. Banyubiru bentuk lahan berupa pegunungan/perbukitan dan kipas lahar, penggunaan lahan dominan pemukiman, sawah dan tegalan dengan sedikit hutan di bagian atas, jenis tanah alluvial dan regosol, tingkat kelerengan bervariasi dari landai (0 – 8%) sampai sangat curam (>45%), dengan curah hujan 2000 – 3000 mm/th. Dari kondisi biofisik dapat dianalisis daerah kejadian bencana tanah longsor tersebut dipengaruhi kelerengan yang curam, penggunaan lahan bagian atas hutan yang terganggu dengan tegalan, curah hujan cukup tinggi dan jenis tanah batuan dengan solum tanah yang tipis sehingga akan memperberat beban tanah untuk menahan terjadinya longsor. Pada peta daerah rawan tanah longsor dapat dilihat persebaran lokasi yang berada di bagian atas yang merupakan lereng pegunungan.

Kabupaten Demak

Lokasi rawan bencana di Kabupaten Demak meliputi beberapa wilayah kecamatan yaitu Kec. Karangawen, Kec. Mranggen, Kec. Karangtengah, Kec. Bonang, Kec. Gajah, Kec. Mijen, Kec. Sayung, Kec. Kebonagung, Kec. Demak, Kec. Guntur, Kec. Wedung dan Kec. Wonosalam. Kejadian bencana di Kabupaten Demak seluruhnya merupakan kejadian banjir dengan korban cukup besar terjadi pada Kec. Karangtengah dan Kec. Bonang berupa tergenangnya pemukiman, areal persawahan serta kerusakan fasilitas umum lainnya.

Dari kondisi biofisik lokasi bencana untuk Kec. Karangtengah bentuk lahan berupa dataran alluvial, jenis tanah alluvial, penggunaan lahan dominan pemukiman, sawah dan tegalan, dengan tingkat kelerengan landai (0 – 8%) dan curah hujan 2000 – 2500 mm/th.  Untuk Kec. Bonang bentuk lahan berupa dataran alluvial, jenis tanah alluvial, penggunaan lahan dominan pemukiman, sawah dan tegalan, dengan tingkat kelerengan landai (0 – 8%) dan curah hujan 2000 – 2500 mm/th. Dari kondisi biofisik dapat dianalisis daerah kejadian bencana banjir dengan kelerengan landai yang mana dapat mengindikasikan adanya flood plain atau dataran banjir, ditambah faktor pemanfaatan lahan berupa pemukiman tanpa tutupan vegetasi permanen yang bagus. Jenis tanah alluvial menunjukkan adanya endapan tanah akibat banjir. Pada peta daerah rawan banjir dapat dilihat persebaran lokasi yang dilewati sungai, baik sungai utama maupun anak sungai.

Kabupaten Jepara

Lokasi rawan bencana di Kabupaten Jepara meliputi beberapa wilayah kecamatan yaitu Kec. Jepara, Kec. Mlonggo, Kec. Welahan, Kec. Kalinyamat, Kec. Pecangan, Kec. Nalumsari, Kec. Mayong, Kec Kedung, Kec. Kembang, Kec. Keling dan Kec. Batealit. Kejadian bencana di Kabupaten Jepara dominan banjir dengan sekali kejadian tanah longsor di Kec. Singorojo pada tahun 2001. Bencana banjir dengan korban cukup besar terjadi pada Kec. Nalumsari dan Kec. Kalinyamat berupa tergenangnya pemukiman, areal persawahan serta kerusakan fasilitas umum lainnya.

Dari kondisi biofisik lokasi bencana untuk Kec. Nalumsari bentuk lahan berupa kipas dan lahan serta dataran alluvial, jenis tanah alluvial dan latosol, penggunaan lahan dominan pemukiman, sawah dan tegalan, dengan tingkat kelerengan landai (0 – 8%) dan curah hujan 2000 – 4000 mm/th. Untuk Kec. Kalinyamat bentuk lahan berupa kipas lahar, dataran dan dataran alluvial, penggunaan lahan berupa pemukiman, sawah dan tegalan, jenis tanah alluvial, dengan tingkat kelerengan landai (0 – 8%) dan curah hujan 2000 – 3500 mm/th.

Dari kondisi biofisik dapat dianalisis daerah kejadian bencana banjir dengan kelerengan landai yang mana dapat mengindikasikan adanya flood plain atau dataran banjir, ditambah faktor pemanfaatan lahan berupa pemukiman tanpa tutupan vegetasi permanen yang bagus. Jenis tanah alluvial menunjukkan adanya endapan tanah akibat banjir. Jenis tanah latosol menunjukkan adanya lapisan lempung. Pada peta daerah rawan banjir dapat dilihat persebaran lokasi yang dilewati sungai, baik sungai utama maupun anak sungai.

Kabupaten Pati

Lokasi rawan bencana di Kabupaten Pati meliputi beberapa wilayah kecamatan yaitu Kec. Tlogowungu, Kec. Wedarijaksa, Kec. Juwana, Kec. Pati, Kec. Sukolilo, Kec. Gabus, Kec. Jakenan, Kec. Winong, Kec. Cluwak, Kec. Kayen, Kec. Pucakwangi dan Kec. Margoyoso. Kejadian bencana di Kabupaten Pati dominan banjir dengan sekali kejadian banjir bandang pada awal tahun 2006 di Kec. Pati Kota, Kec. Pucakwangi dan Kec Margoyoso. Sedangkan kejadian tanah longsor 2 kali terjadi dalam 5 tahun terakhir yaitu pada tahun 2001 di Ds. Klumpit, Kec. Tlogowungu dan Ds. Margorejo, Kec. Wedarijaksa. Bencana dengan korban cukup besar terjadi pada Kec. Cluwak dan Kec. Kayen, yaitu tergenangnya rumah penduduk, pekarangan, sawah sampai terjadi korban jiwa 5 orang.

Dari kondisi biofisik lokasi bencana untuk Kec. Cluwak bentuk lahan berupa dataran dan pegunungan/perbukitan, jenis tanah latosol, penggunaan lahan dominan hutan, pemukiman, sawah dan tegalan, dengan tingkat kelerengan landai (0 – 8%) sampai agak curam (16 – 25%) dan curah hujan 2000 – 3500 mm/th. Untuk Kec. Kayen bentuk lahan berupa dataran, dataran alluvial dan pegunungan/perbukitan, penggunaan lahan berupa hutan, pemukiman, sawah dan tegalan, jenis tanah alluvial dan mediteran, dengan tingkat kelerengan landai (0 – 8%) sampai curam (26 – 45%) dan curah hujan 1500 – 2000 mm/th.

Dari kondisi biofisik dapat dianalisis daerah kejadian bencana banjir dengan kelerengan bervariasi yang mana dapat mengindikasikan adanya banjir kiriman karena faktor penutupan lahan hutan yang tidak cukup bagus. Hal ini didukung juga dari bentuk lahan dataran alluvial dan pegunungan yang menunjukkan adanya endapan banjir. Jenis tanah latosol menunjukkan adanya kadar lempung, jenis tanah mediteran menunjukkan adanya kadar besi, sehingga dapat diperkirakan kandungan zat besi pada air tanah akibat leaching saat terjadi hujan. Selain kerusakan fisik akibat adanya banjir juga berpengaruh pada kualitas air tanah akibat leaching yang tidak terkontrol oleh tutupan vegetasi.

Kabupaten Kudus

Lokasi rawan bencana di Kabupaten Kudus meliputi beberapa wilayah kecamatan yaitu Kec. Gebog, Kec. Dawe, Kec. Kaliwungu, Kec. Jekulo, Kec. Bae, Kec. Jati, Kec. Mejobo, Kec. Undaan dan Kec. Kota Kudus. Kejadian bencana di Kabupaten Kudus dominan banjir dengan sekali kejadian banjir bandang pada awal tahun 2006 di Kec. Kudus, Kec. Mejobo, Kec. Jekulo, Kec. Bae, Kec. Dawe dan Kec. Gebog. Sedangkan frekuensi kejadian tanah longsor terjadi tahunan di Kec. Dawe dan Kec. Jekulo. Bencana banjir dengan korban cukup besar terjadi pada Kec. Mejobo dan Kec. Gebog sampai terjadinya korban jiwa 3 orang.

Dari kondisi biofisik lokasi bencana untuk Kec. Mejobo bentuk lahan berupa dataran dan pegunungan/perbukitan, jenis tanah alluvial, penggunaan lahan dominan pemukiman dan sawah, dengan tingkat kelerengan landai (0 – 8%) dan curah hujan 1500 – 2500 mm/th. Untuk Kec. Gebog bentuk lahan berupa dataran dan pegunungan/perbukitan, jenis tanah latosol, penggunaan lahan berupa hutan, pemukiman, sawah dan tegalan, dengan tingkat kelerengan landai (0 – 8%) sampai sangat curam (>45%) dan curah hujan 2500 – 3500 mm/th. Dari kondisi biofisik dapat dianalisis daerah kejadian bencana banjir dengan kelerengan bervariasi yang mana dapat mengindikasikan adanya banjir kiriman karena faktor penutupan lahan hutan yang tidak cukup bagus, selain itu curah hujan juga rendah. Hal ini didukung juga dari bentuk lahan dataran dan pegunungan. Jenis tanah alluvial menunjukkan adanya endapan tanah akibat banjir, atau dapat dikatakan bagian daratan merupakan flood plain mengingat letak daerah dengan tingkat kelerengan landai. Jenis tanah latosol menunjukkan adanya lapisan lempung.

Kabupaten Rembang

Lokasi rawan bencana di Kabupaten Rembang meliputi beberapa wilayah kecamatan yaitu Kec. Bulu, Kec Gunem, Kec. Kaliori, Kec. Lasem, Kec. Pamotan, Kec. Pancur, Kec. Sarang, Kec. Sale dan Kec. Sudan. Kejadian bencana di Kabupaten Rembang mayoritas banjir dengan sekali kejadian banjir bandang pada awal tahun 2003 di Ds. Sidomulyo, Kec. Sedan. Sedangkan kejadian tanah longsor 2 kali terjadi dalam 5 tahun terakhir yaitu pada awal tahun 2002 di Ds. Kumbo, Kec. Sedan, dan awal tahun 2006 di Ds. Goak, Kec. Lasem. Bencana dengan korban cukup besar terjadi pada Kec. Kaliori dan Kec. Sarang, yaitu tergenangnya rumah penduduk, pekarangan, sawah serta tambak-tambak bandeng dengan area cukup luas.

Dari kondisi biofisik lokasi bencana untuk Kec. Kaliori bentuk lahan berupa dataran dan dataran alluvial, penggunaan lahan berupa sawah, tegalan dan pemukiman, dengan tingkat kelerengan landai (0 – 8%) dan curah hujan 1500 – 2000 mm/th. Untuk Kec. Sarang bentuk lahan berupa dataran dan dataran alluvial, penggunaan lahan berupa sawah, tegalan, kebun campur dan pemukiman dengan tingkat kelerengan landai (0 – 8%), jenis tanah alluvial dan curah hujan 1500 – 2000 mm/th. Dari kondisi biofisik dapat dianalisis daerah kejadian bencana yang dominan banjir yaitu kelerengan yang landai, penggunaan lahan bukan vegetasi permanen serta bentuk lahan dataran alluvial berpotensi terjadinya banjir walaupun curah hujan sedikit. Jenis tanah alluvial dengan kelerengan landai dapat merupakan dataran banjir/flood plain. Pada peta daerah rawan banjir dapat dilihat persebaran lokasi yang dilewati sungai, baik sungai utama maupun anak sungai.

Kabupaten Blora

Lokasi rawan bencana di Kabupaten Blora meliputi beberapa wilayah kecamatan yaitu Kec. Jiken, Kec. Kradenan, Kec. Cepu, Kec. Windusari, Kec. Sambong dan Kec. Kedung Tuban. Kejadian bencana di Kabupaten Blora dominan banjir dengan sekali kejadian tanah longsor pada awal tahun 2002 di Kec. Windusari. Kejadian bencana dengan korban cukup besar terjadi pada Kec. Cepu dan Kec. Kradenan berupa tergenangnya pemukiman, areal persawahan pada lokasi yang cukup luas.

Dari kondisi biofisik lokasi bencana untuk Kec. Jiken bentuk lahan berupa dataran dan pegunungan/perbukitan, jenis tanah grumusol dan mediteran, penggunaan lahan dominan pemukiman, sawah dan tegalan, dengan tingkat kelerengan bervariasi dari landai (0 – 8%) sampai agak curam (26 – 45%) dan curah hujan 1500 – 2000 mm/th. Dari kondisi biofisik dapat dianalisis daerah kejadian bencana banjir dengan kelerengan bervariasi dapat mengindikasikan adanya banjir kiriman karena faktor penutupan lahan hutan yang tidak cukup bagus pada bagian atas. Hal ini didukung juga dari bentuk lahan dataran dan pegunungan. Jenis tanah grumusol dan mediteran menunjukkan adanya kandungan lempung dan zat besi sehingga dapat berpengaruh pada kadar zat besi pada air tanah. Pada peta daerah rawan banjir dapat dilihat persebaran lokasi banjir di Kabupaten Blora.

Kabupaten Grobogan

Lokasi rawan bencana di Kabupaten Grobogan meliputi beberapa wilayah kecamatan yaitu Kec. Gubug, Kec. Tegowanu, Kec. Ngaringan, Kec. Grobogan dan Kec. Godong. Kejadian bencana di Kabupaten Grobogan dominan banjir dengan sekali kejadian banjir bandang pada tahun 2006 di Kec. Tegowanu. Kejadian bencana dengan korban cukup besar terjadi pada Kec. Tegowanu berupa tergenangnya pemukiman, areal persawahan pada lokasi yang cukup luas.

Dari kondisi biofisik lokasi bencana untuk Kec. Tegowanu bentuk lahan berupa dataran alluvial, jenis tanah grumusol dan mediteran, penggunaan lahan dominan pemukiman, sawah dan tegalan, dengan tingkat kelerengan landai (0 – 8%) dan curah hujan 2000 – 2500 mm/th. Dari kondisi biofisik dapat dianalisis daerah kejadian bencana banjir dengan kelerengan landai yang mana dapat mengindikasikan adanya flood plain atau dataran banjir, ditambah faktor pemanfaatan lahan berupa pemukiman tanpa tutupan vegetasi permanen yang bagus. Jenis tanah alluvial menunjukkan adanya endapan tanah akibat banjir. Pada peta daerah rawan banjir dapat dilihat persebaran lokasi yang dilewati sungai, baik sungai utama maupun anak sungai.

Kabupaten Boyolali

Lokasi rawan bencana di Kabupaten Boyolali meliputi wilayah kecamatan Ampel dan Kecamatan Wonosegoro. Kejadian bencana di Kabupaten Boyolali dominan tanah longsor, dengan sekali kejadian banjir dan banjir bandang dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Banjir terjadi  pada tahun 2003 di Kec. Ampel. Sedangkan banjir bandang terjadi pada tahun 2006 di Ds. Garangan, Kec. Wonosegoro. Bencana dengan korban cukup besar terjadi di Kec. Selo berupa kejadian bencana tanah longsor yang mengakibatkan adanya korban jiwa.

Dari kondisi biofisik lokasi bencana untuk Kec. Wonosegoro bentuk lahan berupa pegunungan/perbukitan, penggunaan lahan dominan hutan dan tegalan, jenis tanah alluvial dan regosol, tingkat kelerengan bervariasi dari landai (0 – 8%) sampai agak curam (16 – 25%), dengan curah hujan 2000 – 3000 mm/th. Untuk Kec. Ampel bentuk lahan dataran dan pegunungan/perbukitan, penggunaan lahan dominan pemukiman dan tegalan, jenis tanah latosol, tingkat kemiringan lereng bervariasi dari sedang (9 – 15%) sampai sangat curam (>45%), dengan curah hujan 2500 – 4000 mm/th.

Dari kondisi biofisik dapat dianalisis daerah kejadian bencana tanah longsor tersebut dipengaruhi kelerengan yang curam, penggunaan lahan bagian atas hutan yang terganggu dengan tegalan, curah hujan tinggi dan jenis tanah dengan kandungan lempung sehingga memiliki bidang gelincir yang berfungsi sebagai bidang longsor. Jenis tanah regosol memiliki solum tanah yang tipis yang akan memperberat beban tanah untuk menahan terjadinya longsor. Pada peta daerah rawan tanah longsor dapat dilihat persebaran lokasi yang berada di bagian atas yang merupakan lereng pegunungan.

Kota Semarang

Lokasi rawan bencana di Kota Semarang meliputi beberapa wilayah kecamatan yaitu Kec. Genuk, Kec. Semarang Barat, Kec. Semarang Timur, Kec. Semarang Selatan, Kec. Semarang Utara, Kec. Gajah Mungkur, Kec. Gayamsari, Kec. Tugu, Kec. Gunung Pati, Kec. Pedurungan, Kec. Candisari, Kec. Banyumanik, Kec. Tembalang, Kec. Ngaliyan dan Kec. Mijen. Kejadian bencana di Kota Semarang memiliki frekuensi yang relatif sama antara kejadian banjir dan tanah longsor pada kejadian 5 tahun terakhir. Bencana dengan korban cukup besar terjadi pada Kec. Gajahmungkur dan Kec. Tembalang yang merupakan bencana tanah longsor mengakibatkan korban jiwa 12 orang meninggal. Untuk kejadian banjir hampir selalu mengakibatkan genangan pada areal pemukiman yang luas, seperti pada lokasi Perum Tawang Mas dan Semarang Indah.

Dari kondisi biofisik lokasi bencana untuk Kec. Gajahmungkur bentuk lahan berupa dataran dan dataran alluvial dengan sedikit perbukitan, jenis tanah mediteran, dengan sedikit grumusol dan alluvial, penggunaan lahan berupa pemukiman, tegalan dan sedikit sawah, dengan tingkat kelerengan landai (0 – 8%) sampai curam (26 – 45%) dan curah hujan 2000 – 2500 mm/th. Untuk Kec. Tembalang bentuk lahan berupa dataran dan dataran alluvial, jenis tanah mediteran dan alluvial, penggunaan lahan berupa sawah, tegalan dan pemukiman dengan tingkat kelerengan landai (0 – 8%) sampai agak curam (16 – 25%) dan curah hujan 2000 – 2500 mm/th.

Dari kondisi biofisik dapat dianalisis daerah kejadian bencana tanah longsor di Kota Semarang yaitu kelerengan yang curam, penggunaan lahan bukan vegetasi permanen serta bentuk lahan dataran alluvial dan perbukitan dengan jenis tanah mengandung lempung. Kondisi lahan seperti ini memungkinkan adanya bidang gelincir pada daerah perbukitan yang cukup curam sehingga mendorong terjadinya longsor. Jenis tanah alluvial dengan kelerengan landai dapat merupakan dataran banjir/flood plain. Pada peta daerah rawan banjir dan tanah longsor dapat dilihat persebaran lokasi kejadian bencana.

Kota Tegal

Lokasi rawan bencana di Kota Tegal meliputi beberapa wilayah kecamatan yaitu Kec. Margadana, Kec. Margasana dan Kec. Tegal Barat. Kejadian bencana di Kota Tegal merupakan kejadian banjir dengan korban cukup besar terjadi pada Kec. Margadana, yaitu tergenangnya rumah penduduk, pekarangan, sawah dan sarana umum lainnya.

Dari kondisi biofisik lokasi bencana untuk Kec. Margadana bentuk lahan berupa dataran alluvial, jenis tanah alluvial, penggunaan lahan dominan sawah dan pemukiman, dengan tingkat kelerengan landai (0 – 8%) dan curah hujan 1500 – 2000 mm/th. Dari kondisi biofisik dapat dianalisis daerah kejadian bencana banjir yaitu kelerengan yang landai, penggunaan lahan bukan vegetasi permanen sehingga mengurngi ruang terbuka untuk penyerapan air. Bentuk lahan dataran alluvial dan jenis tanah alluvial dengan kelerengan landai mengindikasikan dataran banjir/flood plain yang mana berpotensi terjadi bencana banjir.

Kota Pekalongan

Lokasi rawan bencana di Kota Pekalongan meliputi beberapa wilayah kecamatan yaitu Kec. Pekalongan Utara, Kec Pekalongan Barat, Kec. Pekalongan Selatan dan Kec. Pekalongan Timur. Kejadian bencana di Kota. Pekalongan merupakan kejadian banjir dengan korban cukup besar terjadi pada Kec. Pekalongan Utara, yaitu tergenangnya rumah penduduk dan sawah pada area yang cukup luas.

Dari kondisi biofisik lokasi bencana untuk Kec. Pekalongan Utara bentuk lahan berupa dataran alluvial, jenis tanah alluvial, penggunaan lahan dominan sawah, pemukiman dan sedikit tegalan, dengan tingkat kelerengan landai (0 – 8%) serta curah hujan 2000 – 2500 mm/th. Dari kondisi biofisik dapat dianalisis daerah kejadian bencana banjir yaitu kelerengan yang landai, penggunaan lahan bukan vegetasi permanen sehingga mengurngi ruang terbuka untuk penyerapan air. Bentuk lahan dataran alluvial dan jenis tanah alluvial dengan kelerengan landai mengindikasikan adanya dataran banjir/flood plain. Pada peta daerah rawan banjir dapat dilihat persebaran lokasi yang dilewati sungai, baik sungai utama maupun anak sungai.

Pada estimasi kerawanan bencana digunakan parameter – parameter besar hujan harian yang dituangkan dalam curah hujan tahunan, bentuk DAS, gradien sungai, kerapatan drainase dan juga kelerengan. Sedangkan parameter managemen meliputi penggunaan lahan. Pengandalian banjir pada daerah tangkapan air secara maksimal dapat dilakukan dengan cara penghutanan, tetapi kemungkinan kejadian bencana banjir masih bisa terjadi karena sifat alaminya yang tidak mungkin untuk bisa dikendalikan melalui pengelolaan DAS seperti faktor curah hujan, kondisi tanah serta kelerengan.

Estimasi rawan longsor lebih dipengaruhi lereng lahan, faktor geologi dan jenis tanah. Sedangkan parameter managemen meliputi penggunaan lahan, infrastruktur dan kepadatan pemukiman. Tanah longsor yang terjadi pada tebing sungai dan atau aliran air bisa menyumbat palung sungai, terutama pada palung sungai sempit. Sumbatan ini akan membentuk bendungan/waduk alam sehingga di bagian hulu bendungan akan terjadi akumulasi air dan sedimen.

Apabila air sudah memenuhi tubuh bendungan atau dengan kata lain air sudah penuh, sehingga adanya hujan yang jatuh di wilayah sebelah hulu cukup tinggi akan meningkatkan volume aliran (runoff) yang juga akan menambah volume air bendungan. Akibat dari keadaan tersebut, maka bendungan alami yang terbentuk sementara dari hasil material longsoran (tanah dan kayu pepohonan) tidak mampu menampung volume aliran air dan kemudian akan mengalir dan mengikis di atas badan bendung penyumbat palung sungai, sehingga meruntuhkan badan bendung (waduk jebol). Akumulasi dari volume air dalam waduk yang besar ditambah dengan aliran banjir mengakibatkan banjir bandang (flush flood) yang memiliki daya rusak sangat besar.

Kejadian bencana banjir dan tanah longsor pada wilayah Balai Pengelolaan DAS Pemali Jratun memiliki karakteristik masing-masing. Pada lokasi dengan jenis tanah mengandung lempung dengan kelerengan yang variatif seperti pada lereng-lereng pegunungan (Gunung Muria, Dataran Tinggi Dieng) mengakibatkan kejadian tanah longsor. Sedangkan pada lokasi dataran dengan karaketistik kelerengan yang relative landai didukung jenis tanah berupa endapan banjir (alluvial) menunjukkan adanya kejadian banjir.

Berdasarkan data rawan bencana 5 tahun terakhir dapat diketahui frekuensi kejadian bencana sebagai berikut; untuk daerah rawan kejadian bencana banjir meliputi Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Demak, Kabupaten Jepara, Kabupaten Kudus, Kabupaten Pati, Kabupaten Rembang, dan Kabupaten Kendal dengan kejadian bencana banjir dominant pada tiap tahunnya. Daerah rawan kejadian bencana tanah longsor meliputi wilayah Kabupaten Pemalang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Semarang. Untuk Kabupaten Brebes dan Kota Semarang memiliki tingkat kerawanan yang relative sama antara kejadian bencana banjir dan tanah longsor. Sedangkan wilayah kabupaten lain, yaitu Kabupaten Blora, Kabupaten Grobogan, Kabupaten Batang, Kabupaten Tegal, Kota Tegal dan Kota Pekalongan memiliki frekuensi kejadian bencana yang relative lebih rendah dibandingkan kabupaten lain di wilayah Balai Pengelolaan DAS Pemali Jratun dilihat dari data kejadian bencana pada 5 tahun terakhir. Wilayah kabupaten dengan sebaran daerah rawan bencana paling luas berada di Kabupaten Brebes dan Kabupaten Pekalongan yang mana kejadian bencana banjir dan tanah longsor terjadi meliputi 17 kecamatan.

Dengan rehabilitasi lahan, khususnya tutupan lahan yang mana merupakan factor managemen dapat berpengaruh pada penurunan kejadian bencana. Perbaikan kondisi hutan atau tutupan vegetasi permanent dapat berfungsi mengikat tanah selain menahan laju aliran run-off sehingga dapat mengurangi banjir maupun tanah longsor. Bangunan teknik sipil dapat digunakan sebagai pembantu artificial untuk mengurangi beban alami, seperti tekanan aliran. Penggunaan lahan seperti pemukiman, sawah ataupun tegalan seharusnya diaplikasikan menyesuaikan kondisi alam sehingga dapat dicapai keseimbangan alam yang berkualitas.

Kesimpulan

  • Parameter estimasi banjir terkait dengan sumber (asal) penyebab air banjir itu terjadi dimana hal ini berkaitan dengan factor meterologis dan kerakteristik DAS-nya, sehingga paameter dilakukan melalui estimasi berdasarkan kondisi alami manajemen daerah tangkapan airnya.
  • Tanah longsor terjadi jika lereng cukup curang, terdapat bidang peluncur di bawah permukaan tanah yang kedap air dan terdapat cukup air (dari hujan) dalam tanah di ata lapisan kedap (bidang luncur) sehingga tanah jenuh air.
  • Frekuensi kejadian bencana banjir tinggi meliputi Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Demak, Kabupaten Jepara, Kabupaten Kudus, Kabupaten Pati, Kabupaten Rembang, dan Kabupaten Kendal dengan kejadian bencana banjir dominant pada tiap tahunnya.
  • Frekuensi kejadian bencana tanah longsor tinggsi meliputi wilayah Kabupaten Pemalang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Semarang.
  • Untuk Kabupaten Brebes dan Kota Semarang memiliki tingkat kerawanan yang relative sama antara kejadian bencana banjir dan tanah longsor.
  • Kabupaten Blora, Kabupaten Grobogan, Kabupaten Batang, Kabupaten Tegal, Kota Tegal dan Kota Pekalongan memiliki frekuensi kejadian bencana yang relative lebih rendah dibandingkan kabupaten lain.
  • Rehabilitasi lahan dapat berpengaruh pada penurunan kejadian bencana.

Saran

  • Perbaikan kondisi hutan atau tutupan vegetasi permanent dapat berfungsi mengikat tanah selain menahan laju aliran run-off sehingga dapat mengurangi banjir maupun tanah longsor.
  • Bangunan teknik sipil dapat digunakan sebagai pembantu artificial untuk mengurangi beban alami, seperti tekanan aliran.



 

Artikel Terkait:

relatedArticles
Last Updated on Wednesday, 24 March 2010 13:01